orangeself’s Weblog
Just another WordPress.com weblog

Mei
30

Sekarang gw jadi makin ga ngerti, apa arti kedewasaan itu..

Ngga bisa dipercaya, kalo orang yang dulu bisa dengan angkuhnya berdiri tegap menantang matahari dan deburan badai ombak di karang tepi laut, sekarang begitu rapuhnya di sudut palung sana.

Terlalu mudah merasa kesepian, terlalu ringan untuk dapat ditepis dan diiris-iris..

Air matanya terlalu cepat menetes dan hatinya juga terlalu rapuh untuk segala bentuk cobaan..

Mungkin..

inilah bentuk cobaan tersebut?

Cobaan untuk menguji seberapa sanggupnya ia menjadi bukan siapa-siapa, seberapa kuatnya ia menjadi the last choice atau bahkan tidak sama sekali, seberapa tulusnya ia berkontribusi tanpa adanya secercah pengakuanpun..

Karena bukankah memang itu arti dari sebuah niat tulus berkontribusi?

Jika dahulu niat tersebut begitu kuat terpatri dalam diri, sekarang ia diuji untuk merealisasikannya..

Mungkin, inilah makna dari perjalanan hidup.

Jika ia memang begitu inginnya berkontribusi sebagai jurnalis dan mengubah dunia dengan tulisannya, maka ia harus melalui tahap ditolak oleh sebuah badan pers tingkat universitas dulu.

Jika ia begitu inginnya bisa berkontribusi untuk bangsa, maka ia harus merasakan beratnya berkontribusi dengan pengorbanan seluruh waktunya, niatnya, tenaganya, pikirannya, loyalitasnya, dan pengabdiannya tanpa adanya sedikitpun tepukan menguatkan di pundak, kata salut dari sekitarnya, dan pengakuan untuk memegang sebuah amanah yang sedikit membuatnya merasa berharga.

Karena itulah arti dari berkontribusi.

Menjadi keset..

menjadi alat..

menjadi penonton untuk sebuah diskusi.

Karena ia harus mampu, harus mampu berada pada sebuah titik di mana ia akan diperlakukan sama seperti rakyat yang sedang dibelanya.

Terinjak-injak, terhina, tak terlirikkan..

Sungguh jika ada sebuah jendela lain untuk perspektifnya, sejatinya ia akan sadar..

bahwasannya INILAH JALAN MENUJU KETULUSAN SEJATI TERSEBUT.

INILAH JALAN MENUJU CITA-CITANYA TERSEBUT.

MENJADI SEORANG KONTRIBUTOR SEJATI, YANG SIAP UNTUK DIINJAK-INJAK DAN TERALENIASI.

Karena kalau tidak begitu,

mana akan sanggup ia menjadis eorang pers yang tahan banting menghadapi godaan dan gangguan loyalitas dan idealismenya?

di saat dunia pers semakin jauh dari kemurnian niat dan idealismenya?

Andaikan saja ia sadar…

bahwa sesungguhnya Allah SWT tengah mempersiapkannya untuk menjadi seorang pembaharu yang tangguh kelak…

… dengan cara menyakitkan seperti ini.

Karena..

seorang yang hebat tak akan lahir dari kenikmatan dunia dan kenyamanan zona hidup, ia harus merasakan pahitnya dunia dan peliknya hidup seperti ini terlebih dahulu..

-semoga ia segera sadar dari mengasihani dirinya sendiri seperti ini terus-

Apr
28

Barusan gw mengecek folder-box ”all from UI” gw. Ada banyak buletin, selebaran, brosur, dan majalah dari UI di sana. Ga ketinggalan ada juga koran Warta Kota edisi 3 Agustus 2007 yang memuat daftar peserta SPMB yang lulus.

Jadi inget.

Beberapa bulan yang lalu, gw pengen banget ada di sini.

Di UI. Di kampus ini. Di BEM ini. Di lingkungan ini. Di balik jakun ini. Di bis kuning ini. Di satuan tempur ini. Di keluarga besar ini.

Begitu inginnya gw sampai-sampai gw begitu berat ngebayangin kalo nanti harus masuk swasta yang kebanyakan kegiatan non-akademisnya bersifat cenderung hedon.

Gw bener-bener ingin ada di BEM dan satuan tempur ini.

Kenapa harus BEM PTN (UI)? Karena dalam pandangan gw, di sanalah wadah yang tepat bagi idealisme gw dan keinginan gw untuk berkontribusi. Bahkan saat itu gw ga terlalu terfokus pada bagusnya kualitas pendidikan di UI sendiri, sekalipun tentu saja gw percaya kalo kualitas pendidikan di UI sangat baik.

Dan sekarang, gw ada di sini. Allah SWT memberikan gw kesempatan untuk bisa menjadi bagian dari Universitas Indonesia. Allah SWT juga memberikan kepercayaan pada gw untuk bisa menjadi bagian dari satuan tempur UI.

Dan saat ini, gw kayak orang ga bersyukur gini!

Fokus pada hal-hal yang membuat gw kecewa, bukan hal-hal yang sepatutnya membuat gw ga berhenti bersyukur sampai saat ini.

Jarak rumah-kampus yang deket.

Waktu tempuh cuma sekitar setengah jam.

Pulang-pergi cenderung ga macet.

Ongkos cuma 4000 bolak-balik.

Naik mobil cuma sekali.

Jarak dari turun mobil ke rumah relatif deket.

Bisa turun di Gg. Senggol yang langsung berakses ke FKM.

Masuk fakultas yang banyak muslimahnya (ga beda jauh dengan di IPB yang tadinya jadi alasan utama gw sempet pengen masuk sana).

Masuk fakultas yang menerapkan kawasan bebas rokok.

Masuk fakultas yang kalo bulan Ramadhan sangan toleransi terhadap yang berpuasa.

Masuk fakultas yang beban kuliahnya ga sesulit fakultas lain untuk disandingkan dengan kehidupan berorganisasi yang aktivitasnya cenderung padat.

Masuk fakultas yang punya jurusan beragam lagi di dalamnya sehingga memungkinkan gw untuk kembali berpikir mau mendalami ilmu apa.

Masuk fakultas yang sosial abis, bahkan kadang-kadang rasanya kayak lagi belajar di fakultas berbasis sosial, bukan eksak.

Masuk fakultas yang punya jurusan sosial, tepatnya psikologi dan komunikasi, yang selama ini sangat menjadi minat gw.

Masuk BEM UI (!!!).

Jadi Brigade.

Masuk Akprop BEM UI.

Masuk BEM Fakultas.

Dikasih kesempatan ngajar oleh Allah SWT (jadi punya penghasilan sendiri, bisa belajar mengelola uang sendiri, bisa mengoptimalkan pembelajaran simpati dan empati serta hidup prihatin demi pemaksimalan uang untuk sesuatu yang lain yang lebih penting).

Dikasih kesempatan oleh Allah SWT untuk mengenal orang-orang luar biasa dan sangat menginspirasi: Bang Dhika, Bang Randy, Bang Ichsan, Bang Riki, Bang Syahrul, Bang Zainal, Bang Edwin, Bang Pipin Sofyan, Bude Lussay, Mba Acha, Ratih, Fiyah, Kak Amir, Kak Rifqi, Kak Mhely, Kak Nu, dll. Satu kampus sama Kak Indrie J. Dan masih banyak lagi yang harus gw syukuri saat ini.

Jadi, kenapa saat ini gw melupakan syukur itu dan malah berfokus pada hal-hal yang jadi beban atau bikin kecewa? Ga dipercaya untuk diberi tanggung jawab apa-apa di Pokja Reformasi. Ga dipedulikan keluhannya mengenai Dialog Tokoh Politik ini. Ga dikasih kesempatan untuk jadi orang yang mengkontribusikan pikirannya dalam KAG UI-SI. Ga “dilihat” ketika Akprop sedang mencari salah satu anggotanya untuk diberikan kepercayaan dan diberikan kesempatan untuk belajar memegang tanggung jawab (yang membuat mereka berkembang) di jalan pergerakan mahasiswa ini (dan kelak dipersiapkan untuk menjadi individu unggul dalam meneruskan pergerakan ini).

Ingat betapa harusnya loe bersyukur, Da!

Apr
23

Merindukan hampir lima tahun silam..

ketika kamis dan minggu menjadi hari yang selalu kunanti-nantikan..

Ada apa sebenarnya?

Ritual “membosankan” yang begitu membuatku semangat.

Diawali dengan pemanasan..

latihan konsentrasi..

latihan pernafasan perut..

latihan eksplor kreativitas..

latihan interpretasi drama..

latihan monolog..

Rasanya sekarang aku begitu merindukannya.

Bisa gila, aku, kalau tiba-tiba ber-monolog sendirian,
hehe!
Merindukan hampir empat tahun silam..

ketika pulang malamku menjadi semakin membaik kualitasnya..

ketika L*** menjadi sesuatu yang amat kurindukan setiap pekannya..

ketika shalat berjamaah menjadi sesuatu yang amat berharga untuk diperjuangkan..

ketika bertemu dengan kak I***** menjadi sesuatu yang begitu membuatku bersemangat..

ketika ngabuburitku begitu mempengaruhiku saat ini rupanya..

Merindukan hampir satu tahun silam..

ketika bangun jam empat menjadi ritual yang begitu menenangkan hati..

ketika ritual ke “Poltangan sonoan dikit” setiap pagi menjadi sesuatu yang begitu berandil dalam keberadaanku sebagai mahasiswa saat ini..

ketika saling menyemangati antara teman-2006-seperjuanganku menjadi sesuatu yang amat berharga saat itu..

ketika setiap SMS dari temanku menjadi semangat untukku..

Merindukan hampir setengah tahun silam..

ketika komando menjadi kata yang amat berharga..

ketika jarkom jam 6 pagi menjadi sesuatu yang amat membuat semangat..

ketika totalitas perjuangan menjadi sesuatu yang begitu menguatkan..

ketika pencerdasan h-1 menjadi sesuatu yang begitu terasa prioritasnya..
Hanya sekedar berefleksi..

Saat ini, dengan bodohnya aku terperangkap pada masa lalu..

tengah ingin sendiri..

dan mulai lelah dengan “permainan”..

Ah, lemahnya aku ini!

Padahal aku tahu, de javu tak boleh terulang kembali..

aku tak boleh lengah dan menyerah pada “ujian” ini..

karena toh bisa saja, lima tahun yang akan datang, aku akan kembali menulis bahwa aku..

merindukan hampir lima tahun silam..

yaitu saat ini.

Nikmati sajalah, Da!

Ummph.. +_+ (tersenyum lemah, mencoba untuk kuat)

Apr
21

Melihat..

ada teman-teman Akprop yang sedang begitu bersemangat menyambut datangnya bakal-titik-tolak perubahan bagi bangsa ini..

ada teman-teman humas yang selalu bersemangat membuat mading..

ada teman-teman biostat yang selalu sigap menyelesaikan semua soal..

ada teman-teman teater yang begitu seriusnya mempersiapkan pementasan..

ada teman-teman sesama pengajar yang tetap semangat dalam prioritas mengajarnya..

ada teman-teman kastrat yang tetap bahagia menjadi bagian dari Kastrat-Soldier..

ada teman-teman kepanitiaan-terplisdeh-yang-pernah-gw-ikutin yang tetap ga terganggu meskipun sama-sama bakal menghadapi sesuatu yang bikin minta ampun ini..

ada teman-teman bingu yang tetap nyantai bae, tapi siaga-siaga aja juga..

ada teman-teman MPK-English yang bisa begitu menikmati kelas..

dan yang pasti..

ada begitu banyak orang yang bisa tetap fokus dalam memanage senyumnya, menjaga hubungan baiknya, belajar dan meningkatkan hal-hal positif dalam dirinya..

Lantas gw?

Apr
18

Banyak hal yang hilang.

Banyak hal yang datang juga.

Ummph.. mungkin itulah hidup.

Sekarang ini, ada beberapa hal yang jadi pemikiran belakangan ini.

Mulai dari…

UTS… (fiuh.. selesai juga, akhirnya.)

Kepanitiaan-ter-plis-deh-yang-pernah-gw-ikutin (Aisyah…pe, deh!)

Sampe urusan “pertarungan” dengan diri sendiri..

lalu, ke mana nasib pergerakan bangsa ini?

Eh? Sempet-sempetnya mikirin gituan, hehehe!

Tapi…

terus terang..

dianggap gubrax sekalipun..

Itu tetep jadi hal yang paling “mengganggu” pikiran gw belakangan ini

Bukan dalam artian merasa terganggu beneran..

Melainkan..

Fiuh, tidakkah mereka mengerti, kalau gw ga bisa ga memprioritaskan hal ini?

Entah.

Apr
09

Bukan, bukan shaum secara harafiah, maksud gw.

Melainkan.. kayaknya gw emang mesti “puasa” ngomong dulu sama beberapa orang.

Umm… tapii… gimana, ya, biar jatohnya ga mutusin silaturahim?

Hmmm…

Terus terang, gw pikir ini jalan terbaik buat mengembalikan semuanya seperti semula.

Cuma kalo jatohnya mutusin silaturahim…

Apa nggak malah jadi tambah berantakan?

Aahhh… tau, dah, nih, ah!

MEREKA!

(siapa?^^)

Apr
08

Gw sadar, gw habis membuat sebuah kesalahan dalam mengambil keputusan : menerima amanah ini.

Tadinya, gw memutuskan untuk nggak menganggap ini sebagai sebuah hambatan : I’ll do it. Gw akan mengerahkan semua kemampuan gw untuk menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya. Kalo katanya Bang Syahrul : optimal.

Tapi baru aja gw bertekad, gw lantas tiba-tiba sadar.

Kalau ini bukan mudah, bahkan cenderung mustahil untuk dijalankan.

Pasti kehendak dari Allah SWT lah kenapa gw baru menyadari hal ini setelah gw menerima amanah ini.

Tapi inilah, sekarang gw pusing sendiri jadinya.

Yeah, sendiri.

Gw bingung, kenapa gw merasa begitu sendirian, ya, sekarang?

Bahkan lebih sendirian ketimbang waktu gw feel so lonely pas KAG kemaren. Waktu itu ternyata masih mendingan banget, Kak Yanti, Mba Acha, Kak Tati, sampe Gonjez dan Seno juga cukup bikin bising hati (but better than lonely).

Tapi kini?

Ah, ga bisa begitu juga, Da. Lo juga harus menghargai semua orang yang udah begitu baik sama elo. Nu, Kak Vilda, Ratih, Kak Mhely…

Ummph… bener juga. Afwan, Ukhti-Ukhtiku..
Tapi sekarang, apa yang bisa gw lakukan?

Semua orang udah ga ada lagi yang mau denger.

Bahkan ketika gw berusaha dengan gamblang menjelaskan permasalahan ini sama Kak Irvan, dia malah dengan gamblang pula menggambarkan bahwa..

Gw salah milih orang untuk sharing barusan.

Ohh… Gw cuma bisa semakin sadar dan semakin gentar waktu makin hari makin banyak aja yang nyadarin gw kalo acara ini terlalu berisiko untuk tetap dilangsungkan.

Mulai dari Teh Resa, Kak Habibie, Bang Rizky, Bang Mansyur, Bang Randy, Kak Toha, Bang Syahrul, Bang Ivan, sampe Bang Zainal.

Dan ga sedikit orang lainnya yang menjengit ngeri atau mempertanyakan keseriusan gw mengenai hal ini.

Tapi sayangnya, nggak ada yang ngerasa ngeri layaknya yang gw rasakan saat ini.

Jadi, gw betul-betul nggak bisa berbagi dengan siapa-siapa.

Oh, oke, berlebihan. Nu dan Kak Vilda baik banget selama ini. Ratih juga.

Tapi gimana gw ngejawab pertanyaan Anna tentang teknis pengiriman undangan sementara kakak-kakakku di belakang memperingatkanku “jangan bermain api kalau ga mampu memadamkannya”?

Gimana gw ngejawab pertanyaan progress pembicara sementara kakak-kakakku di belakang menyadarkanku kalau ini berbahaya?

Gw mau menuntaskan amanah ini tapi gw lebih sepakat dengan kakak-kakakku di belakang.

Mengundurkan dri seperti saran Bang Zainal?

Kenapa gw takut melakukan hal itu?

Lantas, gw harus gimana?

Kenapa ini tampak seolah-olah prokernya Angyun as a Kastraters aja? Ke mana yang lainnya? Kenapa gw ngerasa lagi main api sendirian???

Kekuatan sedang diuji, dan saat-saat seperti ini gw betul-betul berharap bahwa petuah ini benar:

Saat malam semakin pekat, yakinlah pagi akan segera tiba

Saat kesulitan semakin mendesak, yakinlah jalan keluar akan segera datang

Amiiiiiiin…

Beside that, please help me…!!

Feb
26

Gila, gw lagi bener-bener ga bersahabat sekarang-sekarang ini.

Gw sendiri ga tau kenapa.

Tapi yang pasti…

Aaarrrgghhh… gw benci diri gw yang kayak begni!

Afirmasi negatif, frame up negatif, aura jadi negatif jugakah??

Gw ga ngerti, mungkin benar, ya, yang dibilang the Secret..

Bahwa alam menangkap aura kita, pikiran kita, bahkan sangkaan kita.

Gila, gw ga naksir siapa-siapa, kok, sumpah! Gw bener-bener berharap bisa istiqomah kayak gini, sampe tiba saatnya nanti gw siap bertaaruf..

Lho, kenapa jadi nyasar ke sini???

Itulah, salah satu point-nya.

Ga perlu dibahas, lah, ya. Takutnya nanti ada orang yang menemukan blog gw ini, dan…

Ah, ga usah dibayangin, ah!

Lantas..

Gila, gw ga ngerti apa, sih, maksud gw!

Tapi.. gw bener-bener nelangsa..

Padahal, mestinya ga usah pake nelangsa segala, ya! Gw, toh, tau, kalo gw ini memang bukan siapa-siapa.

Dan kenapa gw jadi seolah ga inget, bahwa niat awal gw di sini, kan, bukan untuk diri gw.

Ohhh.. evaluasi diri, Da, evaluasi diri!

AAARRGGGHHHH..

Selamat, teman-temanku!

Fiyah-Ratih-Ira-Shree-Angyun-Fildzah-Chacha-Ijo-Semuanya!!!

Smile up, plizzz…

Feb
14

Baru saja aku mau keluar kopma sambil membaca naskah, hujan tiba-tiba kembali mengguyur.

Terpaksa kukembalikan naskah itu ke dalam tas, dan kukeluarkan lagi payungku-yang-masih-basah dari tas-plastiknya.

Fiuh, payung gw tambah karatan dan semerbak, deh, kalo begini ceritanya, hehehe.

Tapi fenomena hujan ini terus terang menyadarkan gw akan besarnya berkah dari Allah SWT.

Subhanallah..

Dan sebenernya yang mau gw bahas kali ini ga ada kaitannya dengan hujan, hehehe!

Yaph, masalah mencuri.

Lho?

Iya, gw lagi penasaran sama batasan mencuri itu bagaimana.

Asal muasalnya begini.

Ada 2 pilihan waktu kuliah IPU (kuliah lagi urusannya, hehehe!), dua-duanya hari Kamis, cuma beda jam aja, yang satu jam 8 pagi, yang satu jam 3 sore.

Sama beda dosen, tentunya.

Umm.. sebenernya ini ga pure masalah dosen, sih.

(FYI, dosen pagi adalah dosen-serius-bikin-ngerti-asal-lo-serius-belajar-karena- banyak-materi-cuma-ya-nilai-jadi-serius-juga-kalo-mau- dapet-bagus. Kalo sore sebaliknya, ngajar seadanya, tapi nilainya cenderung gampang, u can imagine, laah… hehehe!)

Meski terus terang alasan itu completely juga, hihi..

Ah, tapi gw pengen serius belajar, kok!

Nah, kalo gw ambil pagi..

BT gw bayangin nganggur 4 jam, MPK-English kelar jam 1, PKIP-dasar mulai jam 5. TUH!

Lagipula IPU sore ga di aula.

Kaitannya dengan mencuri..

Gw dapet ide cemerlang, nih.

Gw, kan, nganggur, tuh, jam 8. Apa gw masuk aja, ya, ke aula – buat belajar IPU – tapi absen gw tetep yang sore, dan sore nanti gw tetep masuk. Gw ga keberatan, kok. ^^

Tapi gw takutnya itu termasuk “mencuri ilmu”, mencuri yang bukan hak gw (hak gw, kan, dapet IPU sekali seminggu, bukan 2 kali kayak gini!)..

Meski kalo kata senior ane, “Mencuri yang paling baik adalah mencuri ilmu.”

Tapi, kalo ga berkah…

Siapa tau yang senior ane maksud itu beda..

Ahh… gw takut, ah!

Tapi, gw mau.

Lho?

Ah, ini, kan, karena landasan pikiran gw aja yang takut, takut ga ngerti, takut nilainya susah, takut…

Makanya jangan syu’udzon, Da!

Haduh, iya, ya!

Tapi gw terus terang masih penasaran, itu termasuk mencuri, gak, sih?

(Iya, iya, gw kan cuma penasaran aja, bukannya berarti mau melakukannya, tauk!)

^^

Feb
03

Ohh… betapa cepat waktu bergulir..

tanpa kusadari, kini kuharus katakan say goodbye pada usia remajaku..

20 tahun!

Itu bukan remaja lagi, Da!

Ohh…

by the way, kutemukan banyak makna hari ini..

Alhamdulillah, aku masih diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk bisa hidup dalam keadaan sehat wal afiat hingga hari ini.

masih bisa bercengkrama dengan teman-teman terbaik..

masih bisa nraktir mereka juga (biarpun ga banyak, hehehe!)..

masih bisa menghadiri sebuah acara yang luar biasa menyentuh..

mendengar dzikir bersama para ukhti dan akhi-ku di sini..

Hmmm.. serasa didoain bersama, hehehe..

Subhanallah…

Yah, intinya, hari ini aku tersadar dari lamunanku..

bahwa aku sudah dewasa!

Lho!

Yawh, baik-baik memanfaatkan sisa usia dengan yang baik-baik..

lho!

Ohhh.. kepalaku sudah duaaaa…

tambah pusing.. (berat, euy, kepala dua leher satu, hehe!)

atau malah kalo kata orang…

dua kepala lebih baik daripada satu kepala?

Wah, makin ga beres..

intinya…

SEMANGAT ISTIQOMAH!!!

amiiin..

ps. maacih,yaaa… buat doa-doanya untukku.. I luv u all..

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.