Sekarang gw jadi makin ga ngerti, apa arti kedewasaan itu..
Ngga bisa dipercaya, kalo orang yang dulu bisa dengan angkuhnya berdiri tegap menantang matahari dan deburan badai ombak di karang tepi laut, sekarang begitu rapuhnya di sudut palung sana.
Terlalu mudah merasa kesepian, terlalu ringan untuk dapat ditepis dan diiris-iris..
Air matanya terlalu cepat menetes dan hatinya juga terlalu rapuh untuk segala bentuk cobaan..
Mungkin..
inilah bentuk cobaan tersebut?
Cobaan untuk menguji seberapa sanggupnya ia menjadi bukan siapa-siapa, seberapa kuatnya ia menjadi the last choice atau bahkan tidak sama sekali, seberapa tulusnya ia berkontribusi tanpa adanya secercah pengakuanpun..
Karena bukankah memang itu arti dari sebuah niat tulus berkontribusi?
Jika dahulu niat tersebut begitu kuat terpatri dalam diri, sekarang ia diuji untuk merealisasikannya..
Mungkin, inilah makna dari perjalanan hidup.
Jika ia memang begitu inginnya berkontribusi sebagai jurnalis dan mengubah dunia dengan tulisannya, maka ia harus melalui tahap ditolak oleh sebuah badan pers tingkat universitas dulu.
Jika ia begitu inginnya bisa berkontribusi untuk bangsa, maka ia harus merasakan beratnya berkontribusi dengan pengorbanan seluruh waktunya, niatnya, tenaganya, pikirannya, loyalitasnya, dan pengabdiannya tanpa adanya sedikitpun tepukan menguatkan di pundak, kata salut dari sekitarnya, dan pengakuan untuk memegang sebuah amanah yang sedikit membuatnya merasa berharga.
Karena itulah arti dari berkontribusi.
Menjadi keset..
menjadi alat..
menjadi penonton untuk sebuah diskusi.
Karena ia harus mampu, harus mampu berada pada sebuah titik di mana ia akan diperlakukan sama seperti rakyat yang sedang dibelanya.
Terinjak-injak, terhina, tak terlirikkan..
Sungguh jika ada sebuah jendela lain untuk perspektifnya, sejatinya ia akan sadar..
bahwasannya INILAH JALAN MENUJU KETULUSAN SEJATI TERSEBUT.
INILAH JALAN MENUJU CITA-CITANYA TERSEBUT.
MENJADI SEORANG KONTRIBUTOR SEJATI, YANG SIAP UNTUK DIINJAK-INJAK DAN TERALENIASI.
Karena kalau tidak begitu,
mana akan sanggup ia menjadis eorang pers yang tahan banting menghadapi godaan dan gangguan loyalitas dan idealismenya?
di saat dunia pers semakin jauh dari kemurnian niat dan idealismenya?
Andaikan saja ia sadar…
bahwa sesungguhnya Allah SWT tengah mempersiapkannya untuk menjadi seorang pembaharu yang tangguh kelak…
… dengan cara menyakitkan seperti ini.
Karena..
seorang yang hebat tak akan lahir dari kenikmatan dunia dan kenyamanan zona hidup, ia harus merasakan pahitnya dunia dan peliknya hidup seperti ini terlebih dahulu..
…
-semoga ia segera sadar dari mengasihani dirinya sendiri seperti ini terus-