Ingat bersyukur, Daaa…!
Barusan gw mengecek folder-box ”all from UI” gw. Ada banyak buletin, selebaran, brosur, dan majalah dari UI di sana. Ga ketinggalan ada juga koran Warta Kota edisi 3 Agustus 2007 yang memuat daftar peserta SPMB yang lulus.
Jadi inget.
Beberapa bulan yang lalu, gw pengen banget ada di sini.
Di UI. Di kampus ini. Di BEM ini. Di lingkungan ini. Di balik jakun ini. Di bis kuning ini. Di satuan tempur ini. Di keluarga besar ini.
Begitu inginnya gw sampai-sampai gw begitu berat ngebayangin kalo nanti harus masuk swasta yang kebanyakan kegiatan non-akademisnya bersifat cenderung hedon.
Gw bener-bener ingin ada di BEM dan satuan tempur ini.
Kenapa harus BEM PTN (UI)? Karena dalam pandangan gw, di sanalah wadah yang tepat bagi idealisme gw dan keinginan gw untuk berkontribusi. Bahkan saat itu gw ga terlalu terfokus pada bagusnya kualitas pendidikan di UI sendiri, sekalipun tentu saja gw percaya kalo kualitas pendidikan di UI sangat baik.
Dan sekarang, gw ada di sini. Allah SWT memberikan gw kesempatan untuk bisa menjadi bagian dari Universitas Indonesia. Allah SWT juga memberikan kepercayaan pada gw untuk bisa menjadi bagian dari satuan tempur UI.
Dan saat ini, gw kayak orang ga bersyukur gini!
Fokus pada hal-hal yang membuat gw kecewa, bukan hal-hal yang sepatutnya membuat gw ga berhenti bersyukur sampai saat ini.
Jarak rumah-kampus yang deket.
Waktu tempuh cuma sekitar setengah jam.
Pulang-pergi cenderung ga macet.
Ongkos cuma 4000 bolak-balik.
Naik mobil cuma sekali.
Jarak dari turun mobil ke rumah relatif deket.
Bisa turun di Gg. Senggol yang langsung berakses ke FKM.
Masuk fakultas yang banyak muslimahnya (ga beda jauh dengan di IPB yang tadinya jadi alasan utama gw sempet pengen masuk sana).
Masuk fakultas yang menerapkan kawasan bebas rokok.
Masuk fakultas yang kalo bulan Ramadhan sangan toleransi terhadap yang berpuasa.
Masuk fakultas yang beban kuliahnya ga sesulit fakultas lain untuk disandingkan dengan kehidupan berorganisasi yang aktivitasnya cenderung padat.
Masuk fakultas yang punya jurusan beragam lagi di dalamnya sehingga memungkinkan gw untuk kembali berpikir mau mendalami ilmu apa.
Masuk fakultas yang sosial abis, bahkan kadang-kadang rasanya kayak lagi belajar di fakultas berbasis sosial, bukan eksak.
Masuk fakultas yang punya jurusan sosial, tepatnya psikologi dan komunikasi, yang selama ini sangat menjadi minat gw.
Masuk BEM UI (!!!).
Jadi Brigade.
Masuk Akprop BEM UI.
Masuk BEM Fakultas.
Dikasih kesempatan ngajar oleh Allah SWT (jadi punya penghasilan sendiri, bisa belajar mengelola uang sendiri, bisa mengoptimalkan pembelajaran simpati dan empati serta hidup prihatin demi pemaksimalan uang untuk sesuatu yang lain yang lebih penting).
Dikasih kesempatan oleh Allah SWT untuk mengenal orang-orang luar biasa dan sangat menginspirasi: Bang Dhika, Bang Randy, Bang Ichsan, Bang Riki, Bang Syahrul, Bang Zainal, Bang Edwin, Bang Pipin Sofyan, Bude Lussay, Mba Acha, Ratih, Fiyah, Kak Amir, Kak Rifqi, Kak Mhely, Kak Nu, dll. Satu kampus sama Kak Indrie J. Dan masih banyak lagi yang harus gw syukuri saat ini.
Jadi, kenapa saat ini gw melupakan syukur itu dan malah berfokus pada hal-hal yang jadi beban atau bikin kecewa? Ga dipercaya untuk diberi tanggung jawab apa-apa di Pokja Reformasi. Ga dipedulikan keluhannya mengenai Dialog Tokoh Politik ini. Ga dikasih kesempatan untuk jadi orang yang mengkontribusikan pikirannya dalam KAG UI-SI. Ga “dilihat” ketika Akprop sedang mencari salah satu anggotanya untuk diberikan kepercayaan dan diberikan kesempatan untuk belajar memegang tanggung jawab (yang membuat mereka berkembang) di jalan pergerakan mahasiswa ini (dan kelak dipersiapkan untuk menjadi individu unggul dalam meneruskan pergerakan ini).
Ingat betapa harusnya loe bersyukur, Da!